Simple Blog ~


Jumat, 08 November 2013

Kisah Semut

Seekor semut kecil sedang berjalan menelusuri tanah yang kering. Udara saat itu sangatlah panas. Karena tanah itu kering hanya beberapa rerymputan yang berhasil tumbuh di tanah itu. Air pun sangat sulit dicari di sana. Dia sendirian di sana. Dia di sana untuk mencari kawanannya. Dia tersesat dan tak tahu sekarang dia dimana. 


Matahari sedang terik saat itu. Sekarang dia pikirkan bukan lagi kawanannya. Namun, dia memikirkan dirinya sendiri. Sudah setengah hari menyusuri tanah ini tapi tidak ada yang bisa dia makan ataupun minum. Dia perpikir, akankah bisa keluar dari tanah yang kering itu sengan selamat? sebelum dia mati kelaparan, dehidrasi, atau pun karena yang lainnya.


Dia berusaha mencari air ataupun makanan. Namun tak ada apapun di tanah itu. Hanya ada beberapa rumput. Sayangnya semut tidaklah makan rumput. Dia terus berjalan. Berharap ada air diujung jalannya nanti. Atau berharap ada pohon buah yang ditemuinya diperlanan nanti. Tapi sudah setengah hari dia berjalan dan belum menemukan apapun.
Akhirnya dia lelah. Disebuah batu besar dia bersandar seraya menyerah kepada alam. 


Semenit kemudian .. Harapannya terkabul, langit tiba-tiba menggelap, udara sangat sejuk dan titik-titik air mulai turun dari langit. Dia pun segera meminum titik-titik air yang jatuh itu dangan menjulurkan lidahnya dan menunggu tetesan air itu mendarat disana.


Titik-titik air itu kini berubah. Menjadi semakin deras dan semakin ganas. Semut itu tak mampu lagi berada dibawahnya. Dia pun berlari. Sesampainya dibalik batu besar itu ternyata ada pohon apel. Dia pun memanjat ke sana. Kemudian meringkuk dia antara dua cabang pohon apel itu.


Dia menangis di sana. Merasa bahwa tuhan itu tidak adil. Mengapa baru saja harapannya terkabul sekarang sudah musnah begitu saja? Badai datang tiba-tiba, kilat menyambar kesana-sini dan suara petir menyambar dimana-mana. 


Sejam berlalu dan tiada tanda-tanda hujan badai itu akan reda ..
Semut itu hanya bisa termenung diatas pohon apel. Kini, air hampir bisa menggapainya. Akhirnya dia memanjat lebih tinggi lagi dari tempat sekarang ia berada.


Hujan badai pun reda. Matahari mulai memancarkan sinarnya kembali. Namun genang air itu tak secepat itu surut. Hingga memaksa semut itu agar tetap diatas sana.
Mengawasi segala yang terjadi dari sana. Dan, akhirnya dia melihat kawanannya. Tapi sudah dalam keadaan mengapungin digenangan air dibawahnya. Sudah dalam keadaan tidak bernyawa.


Kini sang semut hanya bisa tersedu. Semua telah meninggalkannya. Kini ia hanya seorang diri. Menunggu pelangin muncul dengan indahnya. Untuk membangkitkannya lagi. 


Namun disisi lain, ia menyesal karena memaki tuhan dan menyebutnya tidak adil. Rasa syukur memenuhi relung batinnya. Walau kini ia sendirian. Dia yakin ini yang terbaik untuknya.


The End:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar