Pelarian. Hanya kata itu tepat menggambarkan diriku saat ini. Terus berlari dari kenyataan. Berlari dari seseorang yang sangat sulit dilupakan.
Ketika berhasil berlari darimu dan menemukannya hanya dalam hitungan detik aku bisa melupakan rasa sakit yang sebelumnya ku rasakan. Dan seketika itu kau hadir kembali. Dengan tutur kata indah kau bicara kepadaku. Seolah ingin meminta maaf. Walaupun aku berusaha keras untuk mengacuhkanmu. Tapi gagal. Di dalam hati aku melompat kegirangan karna kau hadir kembali. ternyata benar melupakanmu jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan saat jatuh cinta padamu. Apalagi melupakan mu, orang yang pernah mengisi hari-hariku.
Namun apa ? baru beberapa detik yang lalu kau hadir dengan kata-kata indahmu yang ternyata menyimpan sebilah pisau yang siap menyayatku. Dan seketika itu aku kembali merasakan sakit. Air mata meluncur deras di pipiku. Tak dapat ditahan. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Aku tak tau apa salahku. Aku tak pernah menyakitimu. Aku tak mengerti. Andai saja kau bisa memberitahuku apa yang telah aku lalukan. Yang membuatmu membenciku. Yang membuatmu tak menyukaiku.
Aku sudah berusaha memikirkan senyuman seseorang yang tadi ku temui. Tapi gagal. aku sudah menyeka semua air mataku. Tapi hatiku tetap menangis tak bisa ku hentikan. Aku sudah berusaha tersenyum. Namun tetap gagal.
Akhirnya aku putuskan untuk berhenti lari dari kenyataan. Berhenti munafik. Berhenti untuk bilang tidak menyukaimu.
Dengan muka yang sangat amburadul. Mata bengkak berkantung. Aaa takkan ku ingat lagi wajahku saat itu. Aku harus fokus belajar. kata itulah yang ada di otakku saat ini. Aku hanya ingin lulus dengan nilai maksimal. Amiiiin.
Ketika berhasil berlari darimu dan menemukannya hanya dalam hitungan detik aku bisa melupakan rasa sakit yang sebelumnya ku rasakan. Dan seketika itu kau hadir kembali. Dengan tutur kata indah kau bicara kepadaku. Seolah ingin meminta maaf. Walaupun aku berusaha keras untuk mengacuhkanmu. Tapi gagal. Di dalam hati aku melompat kegirangan karna kau hadir kembali. ternyata benar melupakanmu jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan saat jatuh cinta padamu. Apalagi melupakan mu, orang yang pernah mengisi hari-hariku.
Namun apa ? baru beberapa detik yang lalu kau hadir dengan kata-kata indahmu yang ternyata menyimpan sebilah pisau yang siap menyayatku. Dan seketika itu aku kembali merasakan sakit. Air mata meluncur deras di pipiku. Tak dapat ditahan. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Aku tak tau apa salahku. Aku tak pernah menyakitimu. Aku tak mengerti. Andai saja kau bisa memberitahuku apa yang telah aku lalukan. Yang membuatmu membenciku. Yang membuatmu tak menyukaiku.
Aku sudah berusaha memikirkan senyuman seseorang yang tadi ku temui. Tapi gagal. aku sudah menyeka semua air mataku. Tapi hatiku tetap menangis tak bisa ku hentikan. Aku sudah berusaha tersenyum. Namun tetap gagal.
Akhirnya aku putuskan untuk berhenti lari dari kenyataan. Berhenti munafik. Berhenti untuk bilang tidak menyukaimu.
Dengan muka yang sangat amburadul. Mata bengkak berkantung. Aaa takkan ku ingat lagi wajahku saat itu. Aku harus fokus belajar. kata itulah yang ada di otakku saat ini. Aku hanya ingin lulus dengan nilai maksimal. Amiiiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar